Perusahaan raksasa sekelas Microsoft tentunya pernah mengalami masa-masa suram diakibatkan oleh produknya yang kurang laku di pasaran.

Sebut saja telepon Microsoft Kin yang menghabiskan dana 1 milyar dollar hanya untuk pengembangannya saja, akan tetapi ditarik peredarannya kurang dari satu tahun akibat penjualannya yang begitu buruk.

Untungnya, hal tersebut tak terjadi pada Hololens, sebuah gadget yang mirip seperti Oculus Rift untuk kebutuhan VR.

Pengenalan dan pemasaran Hololen juga kemungkinan besar tak akan gagal layaknya produk-produk Microsoft sebelumnya.

Alasannya cukuk sederhana, pertama, Hololens masih ada di dalam trennya zaman. Kedua, konsep di balik produk yang satu ini terlihat lebih jelas dan dibangun di atas beberapa tren industri baru yang menjanjikan.

Bahkan kita bisa menemukan beberapa toko yang jual Hololens di Indonesia berkat trennya yang tengah berkembang dan segmentasi marketnya yang tepat sasaran.

Adapun Hololens ini ditujukan dan dirancang bagi profesional VR dan para engineer, sehingga marketnya lebih tertarget.

Sekalipun teknologi ini masih memiliki banyak keterbatasan dan tantangan teknis yang harus diatasi di dalamnya, akan tetapi daya tarik pasarnya masih bisa terjadi secara masal.

Layaknya OS Microsoft Windows yang senantiasa mengalami perubahan dan penyempurnaan semenjak kelahirannya di tahun 1985.

Teka-Teki Perangkat Keras Hololens

Salah satu hal menarik dari Hololens adalah sang pencipta Microsoft masih belum mengungkapkan spesifikasi perangkat keras secara gamblang.

Tidak ada detail informasi mengenai resolusi layar, GFLOP GPU, konektivitas, atau masa pakai baterai.

Memang ada banyak informasi yang membahas hal tersebut di internet, akan tetapi hampir semuanya hanya bersifat spekulasi semata karena sampai sekarang belum ada informasi resmi yang disajikan oleh Microsoft.

Tapi satu hal yang pasti adalah isiannya berbeda dengan teknologi sejenis lainnya yang diusung oleh merk lain.

Hololens kemungkinan besar tidak membutuhkan daya GPU, berbeda jauh dengan Oculus Rift dan produk VR lainnya yang serupa.

Tapi bukan berarti Microsoft membuatnya dengan SoC atau perangkat dasar yang murah. Fakta bahwa alat ini ditujukan bagi para engineer menandakan bahwa ada spek yang jauh lebih tinggi yang disembunyikan oleh Microsoft ketimbang penggunaan Oculus Rift yang dijadikan sebagai alat sejuta umat.

Produk Hololens dan Misteri di Dalamnya